Baru satu kali datang banjir, langsung tertimbun lagi. Ini benar-benar mubazir. Dana desa yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat malah habis untuk proyek yang tidak jelas. Setahu saya anggarannya juga sudah dicairkan atau terbayarkan,” tuturnya sembari menggelengkan kepala.
Warga itu juga menyoroti aspek teknis pengerjaan yang dinilai keliru. Menurutnya, pengerukan seharusnya dimulai dari bagian hilir yang bermuara ke Sungai Saddang. Namun di lapangan, ekskavator hanya mengeruk dari dekker antara Dusun Lebang dan Bissakan hingga ke bagian tengah, tanpa diteruskan ke hilir. Akibatnya, air hanya tergenang.
Jadinya seperti kolam-kolam cekdam. Sekali datang banjir, langsung timbun lagi,” jelasnya.
Selain itu, kedalaman galian pondasi juga dinilai tak sesuai spesifikasi, yang menyebabkan sebagian tanggul di lokasi mengalami kerusakan. Kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan warga terkait pengelolaan keuangan desa.
Pekerjaan ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam pengelolaan dana desa, apalagi anggarannya sudah bertumpuk,” tegasnya.
