Ia menyebut kebutuhan beras di daerahnya masih defisit sekitar 55 persen. Kedekatan geografis dinilai menjadi peluang untuk mempercepat distribusi.
“Jarak dari Sulawesi Barat ke Kalimantan timur kita hanya dipisahkan oleh selat saja,” ucapnya.
Untuk mendukung hal itu, salah satu opsi yang dibahas adalah penyediaan kapal cepat agar waktu tempuh bisa dipangkas.
“Kalau ke depan kita bisa mendapatkan kapal cepat yang kira kira speednya kurang lebih sekitar 25 sampai 30 knot. Mungkin untuk nyebrang ke Kalimantan timur hanya perlu waktu 4 atau 5 jam saja maksimum,” jelasnya.
Kapal tersebut diharapkan menjadi sarana transportasi laut yang efektif untuk mobilisasi orang, barang, dan jasa. Rudy mengatakan ini juga dibahas, kemungkinan kapal itu nanti bisa mendapatkan subsidi bersama antara pemerintah Kaltim dan Sulbar.
“Bagaimana nanti kita mensubsidi agar kapal cepat ini untuk mobilisasi mulai dari manusia, barang dan jasa itu lebih cepat dan disingkat dari Kalimantan Timur mungkin bisa mengirim ke sini adalah untuk energi, mungkin lebih cepat. Kita membutuhkan disana bahan pangan mulai tadi disebutkan adalah beras termasuk kambing program beliau tadi,” tuturnya.
