“Anak-anak ini mungkin belum sepenuhnya memahami makna besar dari pendidikan. Tapi lewat seni, mereka belajar merasakan. Mereka belajar mencintai budaya mereka sendiri,”ujar Wali Kelas Ruslan dengan mata berbinar, memandu murid-muridnya bersiap tampil di panggung.
Di tempat yang sama, Hijrah Nurja Husma , S.Pd., M.Pd., selaku Kepala UPT SD Inpres Batua Makassar, duduk sebagai penilai, memperhatikan jalannya acara. Baginya, apa yang terjadi hari itu adalah potret kecil dari arah pendidikan masa depan.
“Kita tidak hanya ingin mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga kreatif, berani, dan memiliki karakter. Seni adalah salah satu jalannya,” katanya.
Pentas seni ini pun menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran tidak harus selalu terjadi di balik meja dan buku. Ada ruang lain yang justru lebih hidup di panggung kecil, di antara tawa, di balik rasa gugup yang perlahan berubah menjadi percaya diri.
Kelompok demi kelompok tampil dengan ciri khas masing-masing. Ada yang membawakan tarian tradisional dengan gerakan luwes meski masih sederhana, ada pula yang menampilkan drama tentang pentingnya menjaga budaya di tengah derasnya pengaruh modernisasi.
