Alwan mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi di Dusun Pasongken tidak dilakukan secara kebetulan. Kawasan tersebut dinilai membutuhkan rehabilitasi segera karena sejumlah pohon pinus telah mati dan tumbang.
Jika tidak segera ditanam kembali, kata dia, fungsi ekologis hutan bisa terus menurun. “Penghijauan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, di tengah tantangan lingkungan yang kian kompleks, keterlibatan mahasiswa dalam upaya konservasi menjadi hal yang sangat penting.
Selama dua hari pelaksanaan, mahasiswa bersama Kepala Dusun Pasongken turun langsung ke titik-titik kritis kawasan hutan pinus. Mereka menanam bibit di sejumlah lokasi yang membutuhkan pemulihan tutupan vegetasi.
Langkah ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan yang mulai terganggu akibat banyaknya pohon pinus mati dan tumbang. Kegiatan berlangsung lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat.
Meskipun warga tidak terlibat langsung dalam penanaman, dukungan mereka tetap mengalir dan menjadi penyemangat bagi para mahasiswa di lapangan.
