Di luar itu, semuanya hanyalah “percikan” yang tidak boleh menggeser orientasi perjuangan NU.
Sebab begitu kepentingan lain masuk dan menguasai ruang gerak organisasi, maka yang terancam bukan hanya marwah jam’iyyah, tetapi juga kepercayaan umat yang selama ini menempatkan NU sebagai rumah besar.
Menyedihkan jika NU digeser oleh kadernya sendiri, dijadikan hanya sekedar ruang berlindung dan perebutan pengaruh. Khittah NU bukan di situ.
NU harus kembali pada khittahnya menjaga tradisi, meneguhkan akhlak dan menjadi penuntun moral bagi kehidupan keumatan dan kebangsaan. Jika fondasi itu retak oleh kepentingan pribadi atau kelompok, maka kita sedang menyalahi amanah para muassis yang membangun organisasi ini dengan ketulusan dan keikhlasan.
Berpijak pada alur pikiran di atas, maka Idrus menyarankan agar persoalan internal PBNU diselesaikan secara kekeluargaan dan bilamana perlu dengan dialog para kiyai sepuh dan tokoh moral agar muncul solusi yang adil dan berkelanjutan.
Beberapa poin dalam risalah yang memicu kontroversi antara lain: tuduhan pengelolaan keuangan PBNU yang tidak transparan, serta kehadiran narasumber acara Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN) NU yang dinilai kontroversial karena terkait dengan jaringan internasional.
