“Tujuannya untuk mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, sekaligus memperkuat upaya pencegahan di tingkat masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, indikator yang sedang disusun mencakup sejumlah aspek penting. Mulai dari komitmen pemerintah desa, keterlibatan tokoh masyarakat, keberadaan kader aktif, hingga keberlanjutan kegiatan promotif dan preventif.
Tak hanya itu, program ini juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk dalam penemuan kasus dan pendampingan pengobatan pasien TB, serta penguatan kapasitas kader di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa peran masyarakat menjadi kunci dalam upaya eliminasi TB.
“Penanggulangan TB tidak bisa hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Desa harus menjadi garda terdepan, terutama dalam deteksi dini dan pencegahan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya penentuan lokus dan indikator yang jelas, program Desa Siaga TB bisa berjalan lebih terarah dan memberi dampak nyata dalam menekan angka kasus TB di Sulawesi Barat. (**)

















