BERITA

Dosen UNIMEN Suharman Raih Gelar Doktor, Temukan Bakteri Lokal Enrekang Tingkatkan Produksi Bawang Merah hingga 68 Persen

618
×

Dosen UNIMEN Suharman Raih Gelar Doktor, Temukan Bakteri Lokal Enrekang Tingkatkan Produksi Bawang Merah hingga 68 Persen

Sebarkan artikel ini

Makassar, Jurnaltivi.com — Kabar baik datang dari dunia akademik sekaligus pertanian Sulsel. Suharman, dosen sekaligus Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya di Program Studi Ilmu Pertanian Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (UNHAS), Rabu (8/7/2026).

Tapi bukan sekadar lulus. Penelitiannya menemukan bakteri asli lahan karst Enrekang yang mampu meningkatkan produksi bawang merah hingga 68 persen, sekaligus menjadi solusi pengganti pupuk kimia yang selama ini bikin petani ketergantungan.

Berangkat dari persoalan lahan karst di Enrekang yang tandus, minim bahan organik, dan susah menyimpan unsur hara, Suharman justru melihat peluang. Ia meneliti mikroba yang hidup di akar bawang merah setempat dan menemukan sejumlah bakteri unggul.

Kami mengidentifikasi 112 isolat bakteri dari rhizosfer bawang merah di Enrekang. Setelah proses panjang, kami menyeleksi 23 isolat yang punya potensi sebagai biostimulan, biofertilizer, dan bioprotektan,” ujar Suharman usai sidang.

Dari puluhan isolat itu, satu nama menonjol: TP49. Hasil analisis molekuler menunjukkan bakteri ini mirip dengan Bacillus flexus, yang dikenal sebagai agen hayati pemacu pertumbuhan tanaman.

Suharman tak berhenti di laboratorium. Ia menguji temuan ini di rumah kaca dengan teknologi seed coating (pelapis benih) dan penyemprotan inokulan.

Hasilnya? Produksi bawang merah melonjak signifikan. Perlakuan kombinasi seed coating BN11 dan penyemprotan BN11 mencatat produksi tertinggi mencapai 4,06 ton per hektare, disusul kombinasi BN11 dan TP49 sebesar 4,03 ton per hektare.

Bandikan dengan kontrol yang hanya menghasilkan 2,42 ton per hektare. Artinya, ada peningkatan sekitar 66 hingga 68 persen.

Ini membuktikan PGPR lokal bisa jadi teknologi ramah lingkungan. Kita bisa kurangi pupuk dan pestisida kimia, tapi produksi justru meningkat,” tegasnya.

Ujian promosi doktor Suharman terbilang spesial. Hadir sebagai penguji eksternal, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si. yang merupakan Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI. Kehadirannya menunjukkan bahwa riset ini sejalan dengan kepentingan nasional, mengingat bawang merah adalah komoditas strategis.

Disertasi Suharman berjudul “Eksplorasi PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) sebagai Pemacu Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Lahan Karst Enrekang” ini dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Fachirah Ulfa, M.P. selaku promotor, serta Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Baharuddin dan Dr. Ir. Katriani Mantja, M.P. sebagai ko-promotor.

Tak cuma aplikatif, hasil riset Suharman juga sudah diakui dunia akademik. Sebagian temuannya telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi, seperti International Journal of Agriculture and Biosciences (Scopus Q1) dan Brazilian Journal of Biology (Scopus Q2).

Rektor Universitas Muhammadiyah Enrekang, Dr. Drs. H. Syawal Sitonda, M.Ag, mengapresiasi capaian ini. Menurutnya, tambahan satu doktor memperkuat kapasitas riset UNIMEN di bidang pertanian.

Ke depan, hasil penelitian Dr. Suharman diharapkan lanjut ke uji multilokasi, pengembangan formula bioinput, hingga hilirisasi. Agar teknologi ini bisa dinikmati petani secara luas,” ujarnya.

Jika berhasil dikembangkan lebih besar, bakteri-bakteri unggul dari lahan karst Enrekang ini berpotensi menjadi inovasi pertanian berkelanjutan nasional. Tak hanya untuk Sulsel, tapi juga sentra bawang merah di seluruh Indonesia.

Dengan raihan ini, UNIMEN kini memiliki 23 dosen bergelar doktor. Puluhan lainnya masih menempuh pendidikan doktoral di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. (Tim/JTV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *