Salah satu yang menyedot perhatian publik adalah pawai budaya. Ratusan peserta mengenakan pakaian adat dengan busana khas Enrekang. Ibu-ibu dan pemuda tampil anggun dengan kebaya tradisional sambil membawa kampilo, dan roko anyaman dari hasil pertanian setempat.
Para bapak-bapak membawa alat bertani seperti cangkul dan parang. Pemuda mengenakan kostum berburu lengkap dengan tombak. Anak-anak laki-laki pun tak mau kalah, mereka ikut meramaikan dengan sarung dan passapu serta membawa permainan tradisional.
Festival ini juga menghadirkan pameran benda-benda bersejarah yang dikemas dalam bentuk fisik agar bisa kembali disaksikan generasi sekarang. Pengunjung bisa menjumpai makanan dan kue tradisional seperti bassang, umbi-umbian, cucur, sinole, onde-onde, le’pa, dan putu bettawe.
Tak hanya itu, peralatan hidup tradisional seperti alat-alat pertanian, peralatan dapur, hingga permainan tradisional seperti mabaraccung, gasing, piri-piri, jengka, dan bicco turut dipamerkan.
Puncak festival ditandai dengan tradisi Mettoto. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur yang dilakukan dengan berkumpul dan makan bersama menggunakan daun jati atau disebut maballa. Seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang derajat maupun status sosial duduk bersama menikmati makanan dengan tangan.















