Makassar, Jurnaltivi.com – Dalam beberapa bulan terakhir ini antrean panjang terus terjadi, jadi pemandangan di seluruh spbu di wilayah kota Makassar dan sekitarnya. Warga harus rela mengantre berjam-jam di SPBU demi BBM subsidi Parahnya, kelangkaan juga melanda LPG 3 kg di berbagai pangkalan.
Kondisi ini memicu kemarahan publik, Ketua Semut Hitam Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan, Syaripuddin Puput, mendesak PT Pertamina Patra Niaga Regional Makassar dievaluasi dan kepala regionalnya dicopot dari jabatan.
Pantauan di lapangan, terlihat kacat mata antrean terpanjang terjadi di SPBU Bontoala depan Pasar Terong, Pettarani, Biringkanaya, Tamalanrea, hingga Tanjung Bunga. Roda dua, mobil pribadi, sampai truk logistik mengular sejak pagi.
Bukan cuma Pertalite dan Solar yang sulit. Kini kembali terulang LPG 3 kg juga raib dari pasaran. Warga mengaku harus keliling ke beberapa agen untuk dapat satu tabung.
“Dari pagi sampai sore antre, giliran dapat BBM-nya kosong. LPG 3 kg juga hilang di pasaran. Ini bentuk nyata kegagalan distribusi,”ujar Ketum SHI Syaripuddin, Senin (7/9/2026).
Kelangkaan ini langsung memukul ekonomi bawah. Seorang ibu penjual gorengan di Makassar mengeluh.
“Kami jualan gorengan. Kalau gas tidak ada, mau masak pakai apa? Kalau BBM telat, barang dagangan juga telat sampai.” ucap pedagang
Sopir angkutan barang juga menjerit. Waktu habis untuk antre, biaya operasional membengkak, dan risiko keterlambatan distribusi barang makin tinggi. Pelaku UMKM khawatir harga bahan pokok ikut merangkak naik jika distribusi terus tersendat.
Pupud menilai masalah ini bukan sekadar teknis. Ini cermin lemahnya pengawasan dan tata kelola distribusi energi di Sulsel.
“Pertamina sudah beberapa kali bilang stok aman. Tapi faktanya di lapangan beda. Jangan hanya keluarkan rilis stok aman. Turun ke lapangan, lihat antreannya. Kalau memang tidak mampu mengatur distribusi, mundur saja. Kami desak Kepala Pertamina Patra Niaga Regional Makassar dievaluasi dan dicopot,”tegas pupud
Ia juga mendesak aparat penegak hukum dan Pemprov Sulsel turun tangan mengaudit penyaluran BBM dan LPG subsidi. Syaripuddin menduga ada kebocoran dan praktik penimbunan oleh oknum yang membuat stok cepat habis.
“Rakyat kecil yang jadi korban. Sementara oknum di atas enak-enakan mainkan solar dan gas subsidi,”tambahnya.
Pemerintah sebelumnya menjamin ketersediaan energi. Pertamina juga mengimbau warga agar tidak panic buying. Bagi Syaripuddin, imbauan tanpa aksi nyata sama saja omong kosong.
“Kami tidak butuh janji. Kami butuh bukti. BBM ada di SPBU, LPG ada di pangkalan, dan harganya sesuai ketentuan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Pertamina Patra Niaga Regional Makassar belum memberikan tanggapan resmi terkait evaluasi general manager pertamina patra niaga deny Sukendar.
Warga Makassar kini hanya berharap ada langkah tegas. Antrean panjang yang tiap hari bukan solusi. BBM harus ada, LPG harus ada, dan distribusi harus adil.















