Berita

Tingkat Kemiskinan di Sulbar Masih Tinggi Hadirnya Investor Dapat Menurunkan Angka Kemiskinan

414
×

Tingkat Kemiskinan di Sulbar Masih Tinggi Hadirnya Investor Dapat Menurunkan Angka Kemiskinan

Sebarkan artikel ini

Mamuju-Jurnaltivi.com-Berdasarkan data Kanwil DJPb Kemenkeu RI, tingkat kemiskinan Sulbar pada 2024 masih di angka 10,71%, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 8,57%. Sementara itu, IPM Sulbar tercatat 70,45, lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 75,02.  Untuk menurunkan angka kemiskinan di Sulbar dapat dengan mendatangkan investor untuk mendatangkan investor diperlukan peranan pemerintah daerah.

“Sektor perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi Sulbar. Ia menyebutkan bahwa subsektor perkebunan memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan ekspor nonmigas sektor pertanian Indonesia yang mencapai USD 16,77 miliar, dengan USD 11,82 miliar berasal dari minyak sawit. Kehadiran perusahaan perkebunan sawit dapatenurunkan angka kemiskinan di Sulbar,” ungkap Fakhruddin, Akademisi Kebijakan Publik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dalam diskusi terbatas dengan PT Astra Agro Lestari, di Mamuju, Jumat (14/3/2025).

Akademisi Kebijakan Publik Unsulbar sekaligus Dosen FISIP Hukum Unsulbar, Farhanuddin menekankan pentingnya peran pemerintahan baru di Sulawesi Barat untuk terus mendorong hadirnya investor demi tumbuh berkembang suatu daerah.

Sulbar sebagai daerah yang memiliki potensi dengan pertanian, perkebunan dan perikanan perlu didorong pertumbuhannya dengan menarik investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulbar. Ia sependapat dengan pernyataan Gubernur Sulbar mengenai hilirisasi.

Farhanuddin menjelaskan bahwa hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah produk hasil bumi melalui pengolahan lebih lanjut. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani dan negara, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mengembangkan industri lokal, serta memperkuat daya saing global.

“Pengembangan industri pengolahan akan membawa manfaat besar, termasuk pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menyoroti tantangan bagi pemerintahan baru Sulbar hasil Pilkada 2024, terutama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui indikator seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan Nilai Tukar Nelayan.

Farhanuddin juga menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik investor. Menurutnya, beberapa faktor yang mendukung investasi daerah mencakup infrastruktur publik, keamanan, kondisi lingkungan, serta akses pembiayaan.

“Pertumbuhan ekonomi daerah sangat bergantung pada kemampuan menciptakan iklim investasi yang kondusif,” tambahnya sambil menyebutkan bagaimana Sulbar menjadi provinsi baru yang berdiri sendiri dari Sulawesi Selatan yang salah satunya berkat kontribusi perkebunan sawit.(m1)

Menurutnya, dengan strategi yang tepat, investasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan. Pemerintah daerah harus proaktif dalam menciptakan regulasi yang mendukung, membangun infrastruktur yang memadai, serta menyiapkan SDM yang kompetitif agar dapat menarik investor yang berkualitas dan berdampak positif bagi masyarakat.(m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *