Dari informasi sumber internal yang memiliki akses lapangan, solar subsidi itu dimuat ke SPOB Senia dan SPOB Resky ketika sandar di dermaga PT IKI. Setelah muatan dianggap penuh, kapal bergerak menuju perairan sekitar Pulau Samalona.
Di lokasi tersebut sudah menunggu dua kapal berukuran besar, yaitu SPOB Herlin milik seorang pengusaha batu bara bernama H. Erwin, dan SPOB Duta Pertiwi milik H. Rusli, juga dari Kalimantan Selatan.
Kedua kapal ini disebut memiliki kapasitas tangki mencapai 500 kiloliter (KL), sehingga bisa menyerap volume besar dalam satu kali transfer.
Metode ship-to-ship (STS) disebut dilakukan di malam hari untuk menghindari sorotan aparat kepolisian.
Seorang sumber terpercaya meyampaikan kepada tim redaksi, aktivitas ini bukan baru. Sudah berlangsung bulanan, terstruktur, dan melibatkan banyak pihak dari berbagai unsur.
Bos bbm H. Daha mendapat target memasok 2.000 ton solar subsidi per bulan untuk jaringan Kalsel. Target itu disebut berasal dari H. Erwin.
Namun realisasi hanya sekitar 1.300 ton, sehingga memicu tekanan internal.
