“Jika sampai Desember tidak terpenuhi, bantuan dana akan dicabut,” ungkap seorang sumber yang mengetahui pola transaksi tersebut.
Di lapangan, harga pembelian solar subsidi dari kumpulan penimbun lokal berada di kisaran Rp 10.000 per liter. Namun H. Daha disebut menawarkan Rp 12.500 per liter, sehingga membuatnya dijuluki “idola pasar” karena berani membeli volume besar dengan harga jauh di atas rata-rata.
Investigasi ini juga menemukan adanya gesekan antara oknum aparat. Seorang sumber menyebut, terjadi perselisihan antara, seorang oknum TNI berinisial Hmk, dan seorang oknum anggota Polri berinisial Iqb.
Pemicunya adalah rebutan pemasok (pelansir) di Jeneponto yang memasok ke jaringan solar H. Daha. Hmk diduga memilih memasok ke jaringan H. Daha karena harga pembelian lebih tinggi (+Rp 11.000 per liter).
Sumber menjelaskan, “Ketegangan ini pernah mempengaruhi kelancaran distribusi.”
Sejumlah narasumber juga menyampaikan adanya dugaan upaya pembungkaman terhadap beberapa aktivis dan media yang awalnya hendak mengungkap kasus ini.
