“Yang ingin kami bangun di Ranu Harapan adalah pendidikan yang seimbang. Anak tidak hanya diarahkan untuk hafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami Al-Qur’an, memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris, serta kuat dalam akademik. Jadi, mereka punya bekal agama sekaligus kompetensi untuk menghadapi masa depan, Selasa (1/9/2026)” ujar Muhammad Ramli Rahim.
Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan pemahaman, pembentukan karakter, serta penguasaan ilmu pengetahuan.
“Bagi kami, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan berarti meninggalkan pelajaran umum. Justru kami ingin anak-anak tumbuh sebagai generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, mampu berkomunikasi dengan baik, dan memiliki daya saing,” jelasnya.
Konsep pendidikan yang ditawarkan Ranu Harapan tidak sekadar menargetkan anak menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga mendorong mereka untuk memahami Al-Qur’an melalui penguasaan bahasa Arab, sekaligus memiliki keterampilan bahasa asing dan kemampuan akademik yang mumpuni.















