“Bapak meninggal bulan Maret lalu. Makanya bisnis kue ini saya dan mama yang geluti untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya dengan suara bergetar.
Al May terus berusaha menyelesaikan presentasinya meski beberapa kali tak kuasa menahan tangis. Kisahnya menjadi gambaran bahwa bagi sebagian mahasiswa, berwirausaha bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga upaya membantu keluarga sekaligus mempertahankan keberlangsungan pendidikan.
Di sela-sela presentasi, para penguji memberikan sejumlah masukan, mulai dari strategi pemasaran hingga perhitungan keuntungan. Salahuddin Alam mengingatkan bahwa tujuan program ini adalah membentuk mahasiswa menjadi pelaku usaha yang mandiri, bukan sekadar penerima bantuan.
“Untuk adik-adik, pahami bahwa kami ingin kalian belajar berwirausaha pada program ini. Tetapi usaha itu harus dilakukan oleh kalian. Bukan orang lain,” kata Salahuddin.
Dari 33 calon peserta, mayoritas mengajukan rencana usaha makanan dan minuman. Sejumlah peserta lainnya menawarkan bisnis sembako, konveksi, penjualan pakaian, jasa makeup artist, hingga usaha menjahit.















