BeritaKesehatanNasionalSorotan

Berita Terkini: Warga Enrekang Tolak Tambang Emas, Lebih Baik Jual Jagung daripada Jual Emas

1053
×

Berita Terkini: Warga Enrekang Tolak Tambang Emas, Lebih Baik Jual Jagung daripada Jual Emas

Sebarkan artikel ini

Enrekang, Jurnaltivi.com – Penolakan terhadap rencana penambangan emas di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, semakin menguat. Aliansi Masyarakat Lingkar Tambang menegaskan penolakan keras tanpa negosiasi. Aksi penolakan kini ditandai dengan pemasangan spanduk di Desa Pinang, Kecamatan Enrekang, yang berbunyi: “Tolak Tambang Emas. Lebih Baik Jual Jagung Daripada Jual Emas. EMAS Enrekang Masolang #Riso100%Menola.”

Salah seorang warga, Syahrul, ketika dikonfirmasi pada Jumat (5/12/2025), menjelaskan alasan penolakan warga bersifat mendasar dan etis. Kekhawatiran utama adalah dampak buruk operasi tambang, sementara kehidupan warga saat ini dianggap telah sejahtera dengan bertani dan beternak.

Warga Desa Pinang selama ini belum ada yang mati kelaparan, mengemis, atau tidur di kolong jembatan. Aktivitas bertani dan berternak sudah cukup menopang perekonomian. Ini harusnya menjadi pertimbangan besar pemerintah,” ujar Syahrul.

Ia menyayangkan sikap pemerintah daerah yang dinilai memberikan “karpet merah” kepada investor di tengah gejolak penolakan.

Masyarakat justru lebih membuka mata hati untuk menjaga lingkungan yang berpotensi terdampak besar, dibandingkan pemerintah daerah dan legislatif,” tegasnya.

Syahrul memaparkan sejumlah dampak mengerikan dari pertambangan emas, mulai dari kerusakan lingkungan, pencemaran air, dampak sosial seperti penggusuran, hingga bahaya kesehatan akibat merkuri dan sianida.

Memproduksi emas untuk satu cincin kawin saja menghasilkan 20 ton limbah. Janji kesejahteraan tidak sebanding dengan risiko bencana alam skala besar yang ditimbulkan. Saat bencana itu terjadi, masyarakat yang menanggung,” jelasnya.

Ia menegaskan, pengalaman di sejumlah daerah seperti Sumatra, Aceh, dan Luwu Utara seharusnya menjadi pelajaran. Masyarakat, menurutnya, menolak keras tanpa negosiasi lagi karena dampaknya sudah jelas.

Perusahaan tak bisa menjamin, negara sering lepas tangan. Ini ilusi kesejahteraan. Masyarakat hanya dapat dampak, segelintir orang dapat untung. Jika ekosistem hancur, kami yang tanggung,” lanjut Syahrul.

Atas dasar itulah, warga bersikukuh menolak dan mendesak pemerintah serta legislatif berpihak pada mereka. Warga juga berencana bergabung dengan Aliansi Masyarakat Lingkar Tambang untuk memperkuat perjuangan.

Kami siap mengambil risiko apa pun jika tambang emas ini memaksakan merusak ekosistem di bumi Massenrempulu. Seruan ini bentuk penolakan keras tanpa negosiasi. Pemda dan legislatif tidak ada alasan lagi untuk tidak berpihak pada warga,” pungkas Syahrul tegas. (Tim/JTV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *