Berita

Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si, : Gaungkan Ekopedagogi Digital, Tutup Orasi Ilmiah Dengan Air Mata Dan Kenangan Bimbingan Orang Tua Tercinta

112
×

Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si, : Gaungkan Ekopedagogi Digital, Tutup Orasi Ilmiah Dengan Air Mata Dan Kenangan Bimbingan Orang Tua Tercinta

Sebarkan artikel ini

Makassar, Jurnaltivi.com– Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali melahirkan srikandi akademik. Dalam Sidang Terbuka Senat yang berlangsung khidmat di Ruang Teater Lantai 4 Menara Pinisi, Kamis (30/7/2026), lima dosen dikukuhkan sebagai Guru Besar. Salah satunya adalah Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si, putri kelahiran Bantaeng yang menutup pidatonya dengan haru dan pesan mendalam tentang masa depan bumi.

Pengukuhan ini menjadi penegasan komitmen UNM untuk memperkuat kualitas pendidikan, riset, dan pengabdian. Empat profesor lainnya yang dikukuhkan bersama Prof. Erma adalah Prof. Dr. Kamaruddin, S.Ag.M.Pd., Prof. Dr. Widya Karmila Sari Achmad,S.Pd.,M.Pd., Prof. Dr. Sultan, S.Pd.,M.Pd., dan Prof. Dr. Maemuna Muhayyang,S.Pd.,M.Pd.

Dari Bantaeng ke Puncak Guru Besar

Prof. Erma lahir di Bantaeng, 19 Mei 1968. Ia merupakan cucu dari Kr. Amien dan putri keenam dari pasangan H. Sahabuddin Tanawali dan Hj. St. Husniah.

Akar pendidikannya tertanam kuat di tanah kelahirannya. Ia menamatkan SD Negeri 1 Lembang Cina, SMP Negeri 3 Bantaeng, dan SMA Negeri 160 Bantaeng. Gelar Sarjana diraih di UNM, Magister di Universitas Hasanuddin, dan Doktor kembali di UNM.

Perjalanan pengabdiannya pun panjang. Ia pernah menjadi Kepala Laboratorium Pendidikan Kimia Universitas Nusa Cendana Kupang, Ketua Prodi Pendidikan Kimia, Kepala Laboratorium PGSD FIP UNM, hingga Kepala Pusat Penelitian Gender dan Anak LP2M UNM. Saat ini ia menjabat Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat dan Teknologi Tepat Guna UNM.

Menyoroti Ironi Zaman Lewat “Ekopedagogi Digital”

Pelaksana Tugas Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H.,M.Hum., menyampaikan bahwa pengukuhan ini adalah awal tanggung jawab baru.

“Kehadiran lima profesor baru ini diharapkan dapat memperkuat daya saing riset UNM, meningkatkan mutu pengajaran, serta memperluas kontribusi kampus bagi pembangunan bangsa,” ujar Plt Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H.,M.Hum.

Dalam pidato ilmiah Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si, berjudul “Ekopedagogi Digital dan Transformasi Kesadaran Ekologis untuk Membangun Generasi Berkelanjutan”, Prof. Erma menyoroti kontradiksi zaman modern.

“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kerusakan lingkungan justru terus meningkat. Hutan menyusut, sungai tercemar, laut dipenuhi sampah, dan manusia perlahan kehilangan kedekatannya dengan alam,” tegas Prof. Dr. Erma Suryani Sahabuddin, M.Si,

Menurutnya, kemajuan teknologi saja tidak cukup. Diperlukan transformasi cara pandang. Kegelisahan akademik itu lahir dari pengalamannya mendampingi mahasiswa dan masyarakat di pesisir, sekolah, hingga permukiman yang menghadapi krisis ekologis.

“Dari pengalaman itu saya melihat bahwa kerusakan lingkungan sering berjalan beriringan dengan melemahnya kesadaran manusia terhadap makna keberlanjutan,”ujarnya.

Berangkat dari sana, Prof. Erma memperkenalkan konsep _Ekopedagogi Digital_. Ini adalah pendekatan yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pengalaman ekologis, refleksi kemanusiaan, dan nilai-nilai keberlanjutan.

“Teknologi seharusnya tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi media yang mampu membangun kesadaran, menggerakkan aksi nyata, dan membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Ia berharap konsep ini melahirkan generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga memiliki karakter ekologis kuat untuk menjadi bagian dari solusi.

Ditutup Air Mata dan Sebutan Orang tuanya dan Keluarga

Prof. Erma menutup pidatonya dengan kalimat yang menggema di ruang sidang. Ia menegaskan bahwa gelar Guru Besar bukanlah garis akhir.

“Guru Besar bukan sekadar pengakuan atas capaian ilmiah, tetapi panggilan untuk menjaga martabat ilmu pengetahuan agar tetap berpihak pada kehidupan, kemanusiaan, dan masa depan peradaban,” tuturnya.

Detik-detik terakhir pidatonya, suasana berubah haru. Suara Prof. Erma bergetar. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyebut satu per satu nama keluarganya.

Momen itu menjadi ungkapan syukur terdalam atas doa, dukungan, dan cinta yang mengantarnya hingga ke puncak jabatan akademik tertinggi.

 

Optimisme UNM ke Depan

Dengan bertambahnya lima Guru Besar, UNM optimistis dapat semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.

Acara turut dihadiri jajaran Senat, keluarga, dan kolega. Apresiasi khusus mengalir kepada Prof. Erma atas gagasan dan keteladanan yang ia tunjukkan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *