“Saya kaget sekaligus bangga. Terharu juga. Pak Gubernur masih melihat kami yang di bawah. Doakan beliau selalu sehat dan bisa terus membawa Sulsel lebih maju,”ucapnya terharu.
Meskipun waktu pengabdiannya secara administratif akan segera berakhir, Syafii menyatakan tetap siap bekerja kapan pun dibutuhkan. Saat pensiun pun nanti akan tetap terlibat dalam potensi SAR.
“Di Sulsel ini masih banyak potensi SAR. Selama saya mampu, saya akan terus mengabdi,”tegasnya.
Salah satu pengalaman paling membekas bagi Syafii adalah saat ditugaskan ke Palu pada 2018 usai gempa dan tsunami mengguncang Sulawesi Tengah.
“Selama dua minggu, saya dan tim mengevakuasi ratusan jenazah. Berat, tapi saya merasa bangga bisa membantu sesama,”kenangnya.
Panggilan hati untuk dunia kemanusiaan telah tumbuh sejak kecil. Saat konflik Timor-Timor pecah tahun 1975, Syafii yang kala itu duduk di bangku kelas 4 SD sudah terbiasa melihat lingkungan asramanya membantu para korban luka dan pengungsi.
“Itu menumbuhkan jiwa kemanusiaan saya sejak dini,”katanya.

















