Menurutnya, kemajuan teknologi saja tidak cukup. Diperlukan transformasi cara pandang. Kegelisahan akademik itu lahir dari pengalamannya mendampingi mahasiswa dan masyarakat di pesisir, sekolah, hingga permukiman yang menghadapi krisis ekologis.
“Dari pengalaman itu saya melihat bahwa kerusakan lingkungan sering berjalan beriringan dengan melemahnya kesadaran manusia terhadap makna keberlanjutan,”ujarnya.
Berangkat dari sana, Prof. Erma memperkenalkan konsep _Ekopedagogi Digital_. Ini adalah pendekatan yang mengintegrasikan teknologi digital dengan pengalaman ekologis, refleksi kemanusiaan, dan nilai-nilai keberlanjutan.
“Teknologi seharusnya tidak hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi media yang mampu membangun kesadaran, menggerakkan aksi nyata, dan membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.
Ia berharap konsep ini melahirkan generasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga memiliki karakter ekologis kuat untuk menjadi bagian dari solusi.















