“Data ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat kondisi riil di lapangan sekaligus menentukan langkah intervensi yang lebih tepat sasaran. Penanganan stunting membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja,” ujar dr. Nursyamsi Rahim.
Ia menambahkan, capaian tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk menurunkan prevalensi stunting yang sebelumnya berada pada angka 35,4 persen berdasarkan hasil SSGI terakhir pada tahun 2024. Karena itu, penguatan intervensi spesifik dan sensitif, pemantauan pertumbuhan balita, peningkatan kualitas gizi, penguatan peran Posyandu serta keterlibatan keluarga dan lintas sektor menjadi bagian penting dalam percepatan penurunan stunting.
“Kita ingin setiap kabupaten bergerak berdasarkan data, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar menyasar anak dan keluarga yang membutuhkan,” tegasnya.
Upaya tersebut sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter sejak usia dini.















