Kelangkaan ini langsung memukul ekonomi bawah. Seorang ibu penjual gorengan di Makassar mengeluh.
“Kami jualan gorengan. Kalau gas tidak ada, mau masak pakai apa? Kalau BBM telat, barang dagangan juga telat sampai.” ucap pedagang
Sopir angkutan barang juga menjerit. Waktu habis untuk antre, biaya operasional membengkak, dan risiko keterlambatan distribusi barang makin tinggi. Pelaku UMKM khawatir harga bahan pokok ikut merangkak naik jika distribusi terus tersendat.
Pupud menilai masalah ini bukan sekadar teknis. Ini cermin lemahnya pengawasan dan tata kelola distribusi energi di Sulsel.
“Pertamina sudah beberapa kali bilang stok aman. Tapi faktanya di lapangan beda. Jangan hanya keluarkan rilis stok aman. Turun ke lapangan, lihat antreannya. Kalau memang tidak mampu mengatur distribusi, mundur saja. Kami desak Kepala Pertamina Patra Niaga Regional Makassar dievaluasi dan dicopot,”tegas pupud
Ia juga mendesak aparat penegak hukum dan Pemprov Sulsel turun tangan mengaudit penyaluran BBM dan LPG subsidi. Syaripuddin menduga ada kebocoran dan praktik penimbunan oleh oknum yang membuat stok cepat habis.















