“Perubahan mandat menciptakan dinamika pergeseran identitas kelembagaan antara misi historis sebagai penghasil guru dengan misi akademik yang lebih luas, yaitu ilmu murni dan non-kependidikan,”jelas prof Aris
Berdasarkan temuan empiris, ekspansi program studi non-kependidikan ternyata tidak otomatis meningkatkan kualitas prodi kependidikan. Hal ini terjadi karena tata kelola yang masih terpisah dan kolaborasi akademik yang terbatas.
Tantangan terbesar LPTK saat ini, menurutnya, adalah mengelola dualisme identitas agar tidak mengalami “amnesia sejarah” sebagai pencetak pendidik bangsa, sekaligus tetap unggul sebagai universitas.
“Transformasi LPTK diperlukan untuk membangun kembali jembatan interaksi dan kolaborasi akademik. Perubahan mandat bukan sekadar menjadi universitas, melainkan juga menjadi pusat keunggulan pendidikan yang utuh,”tutup Prof. Arismunandar.
Diketahui seminar ini mengusung tema besar Dies Natalis UNM ke-65.
65 Tahun Mengabdi: Tangguh, Inovatif, Berdampak Bagi Negeri dan subtema Transformasi Pendidikan untuk Generasi Masa Depan. Kegiatan ini dihadiri Plt. Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum sekaligus sebagai keynote speech, pimpinan universitas, para narasumber nasional, serta 1.482 peserta yang telah terdaftar.















