Aswad menjelaskan bahwa kehadiran penyuluh perindustrian dan perdagangan di lapangan bertujuan memastikan transisi teknologi tepat guna dari akademisi dapat diserap dengan sempurna oleh para perajin.
Ketua Tim Pengabdian FTI ITB, Muhammad Akbar, memaparkan bahwa pengembangan mal ukur ini telah melewati berbagai riset pemetaan masalah pada kunjungan lapangan sebelumnya di Pamboborang.
“Tujuannya satu: memudahkan produksi massal dodos dan egrek dengan tetap mengunci standar kualitas teknisnya,” terangnya.
Senada dengan hal tersebut, Perwakilan Tim FTI ITB, Sukoyo, menaruh harapan besar agar sentra ini kelak mampu memenuhi rantai pasok perkebunan di Sulbar.
“Kita berharap ke depannya Desa Pamboborang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi mampu menjadi pemasok utama alat panen dodos dan egrek untuk perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar di Sulawesi Barat,” harap Sukoyo.
Guna menjaga keberlanjutan program, acara pelatihan resmi ditutup dengan penyerahan mal ukur dodos dan egrek kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pamboborang. Ke depan, BUMDes akan berperan sebagai pengelola sentra dan penjamin mutu distribusi alat panen hasil karya 40 perajin lokal Pamboborang.















