BeritaNasionalRagam Wisata

Festival Budaya Kaluppini 2026 Tutup, Bupati Enrekang: Ini Bukan Sekadar Perayaan

685
×

Festival Budaya Kaluppini 2026 Tutup, Bupati Enrekang: Ini Bukan Sekadar Perayaan

Sebarkan artikel ini

Enrekang, Jurnaltivi.com – Festival Budaya Kaluppini 2026 resmi ditutup Minggu (9/8/2026) pagi. Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga hadir langsung dalam penutupan festival yang berlangsung selama sepekan penuh itu.

Dalam sambutannya, Yusuf Ritangnga menegaskan festival tahunan yang digelar sejak 3 Agustus lalu ini bukan sekadar ajang seremonial.

Festival ini bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi menjadi ruang untuk menjaga warisan leluhur, mempererat persaudaraan, serta meneguhkan kembali identitas dan kebanggaan kita sebagai masyarakat Enrekang,” ujarnya di lokasi acara.

Ribuan pengunjung memadati Lapangan Puang Pina, Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang selama tujuh hari penyelenggaraan. Beragam pertunjukan seni ditampilkan untuk memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Kaluppini.

Panggung seni diisi tari kreasi lokal, drama pendek dan panjang, serta berbagai seni tradisional seperti Makkelong, Manca, Masisemba, Mapau Nene, Makkarume, Manganjing, Mappadendang, Suling, Kacapi, musikalisasi puisi, Makkarumbing, hingga live painting. Setiap pertunjukan disebut mengandung nilai-nilai intelektual dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu yang menyedot perhatian publik adalah pawai budaya. Ratusan peserta mengenakan pakaian adat dengan busana khas Enrekang. Ibu-ibu dan pemuda tampil anggun dengan kebaya tradisional sambil membawa kampilo, dan roko anyaman dari hasil pertanian setempat.

Para bapak-bapak membawa alat bertani seperti cangkul dan parang. Pemuda mengenakan kostum berburu lengkap dengan tombak. Anak-anak laki-laki pun tak mau kalah, mereka ikut meramaikan dengan sarung dan passapu serta membawa permainan tradisional.

Festival ini juga menghadirkan pameran benda-benda bersejarah yang dikemas dalam bentuk fisik agar bisa kembali disaksikan generasi sekarang. Pengunjung bisa menjumpai makanan dan kue tradisional seperti bassang, umbi-umbian, cucur, sinole, onde-onde, le’pa, dan putu bettawe.

Tak hanya itu, peralatan hidup tradisional seperti alat-alat pertanian, peralatan dapur, hingga permainan tradisional seperti mabaraccung, gasing, piri-piri, jengka, dan bicco turut dipamerkan.

Puncak festival ditandai dengan tradisi Mettoto. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur yang dilakukan dengan berkumpul dan makan bersama menggunakan daun jati atau disebut maballa. Seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang derajat maupun status sosial duduk bersama menikmati makanan dengan tangan.

Enam desa tergabung dalam tradisi ini, yakni Desa Kaluppini, Lembang, Ranga, Tokkonan, Rosoan, dan To Balu.

Orang nomor satu di Enrekang itu juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kaluppini, para tokoh adat, tokoh agama, panitia, seniman, dan semua pihak yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan ini,” katanya.

Yusuf Ritangnga berharap semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Oleh karena itu, kepada seluruh hadirin dan masyarakat adat, mari kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya,” ucapnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak mendukung festival adat yang diselenggarakan setiap tahun sebagai upaya melestarikan budaya.

Festival adat yang diselenggarakan setiap tahun seperti ini harus kita dukung sepenuhnya, termasuk oleh pemerintah, sebagai upaya melestarikan budaya kita. Tradisi ini merupakan warisan luhur yang sangat berharga dari para leluhur dan menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dijaga serta dilestarikan,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Yusuf Ritangnga menyampaikan pesan singkat.

Budaya kita adalah jati diri kita. Sampai jumpa di Festival Budaya Kaluppini berikutnya,” pungkasnya. (Tim/JTV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *