Bukannya menjadi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), dana Porseni justru diduga dialihkan untuk membiayai kegiatan lain. Dugaan inilah yang memunculkan spekulasi bahwa pelaksanaan Porseni di awal semester genap hanyalah formalitas administratif, bukan murni kebutuhan pembinaan siswa, terlebih bertolak belakang dengan keterangan kepala sekolah yang sebelumnya dimuat dalam pemberitaan media.
Tak hanya soal waktu, pelaksanaan Porseni juga menuai sorotan dari sisi keterlibatan siswa dan manfaat kegiatan. Beberapa siswa menilai kegiatan tersebut minim persiapan, kurang partisipatif, dan tidak berdampak signifikan terhadap pengembangan bakat, karena digelar secara terburu-buru.
Sejumlah orang tua siswa juga mempertanyakan transparansi anggaran Porseni. Mereka mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan terbuka terkait sumber dana, perencanaan kegiatan, maupun laporan penggunaan anggaran. Situasi ini semakin memperkuat dugaan lemahnya prinsip transparansi dalam pengelolaan keuangan sekolah.
