Di sisi lain, pada hari yang sama juga terjadi peristiwa yang dinilai tidak biasa. Belasan orang tua siswa dipanggil ke sekolah secara mendadak karena anak mereka disebut kedapatan keluyuran dan tidak mengikuti upacara.
Pemanggilan dilakukan melalui sambungan telepon, sehingga memicu keberatan dari sejumlah orang tua.
Salah seorang orang tua siswa mengaku terkejut dan khawatir atas panggilan tersebut. “Saya ditelepon oleh pak guru YI, katanya saya harus ke sekolah sekarang karena anakku melanggar. Itu anak ta memang makumbala, jadi saya khawatir pelanggaran apa ini?” ujarnya dengan nada cemas.
Sementara itu, sejumlah siswa yang dipanggil mengaku bahwa mereka berada di luar sekolah karena datang terlambat dan telah mengetahui bahwa pada hari tersebut tidak ada kegiatan belajar mengajar reguler, mengingat sekolah tengah melaksanakan Porseni. Pengakuan siswa ini menimbulkan pertanyaan lanjutan terkait kejelasan pengaturan kegiatan sekolah dan mekanisme pengawasan siswa pada hari pelaksanaan Porseni.
