Persoalan yang menjadi pertimbangan kami juga adalah RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). Wilayah yang mau dikelola tambang emas itu masuk dalam zona merah dampak bencana,” tegas Juang.
Ia mengungkapkan kekhawatiran masyarakat karena lokasi tambang berada di daerah lereng pegunungan, sementara pemukiman warga ada di bawahnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana seperti banjir bandang dan longsor jika tambang beroperasi.
Masyarakat sudah melihat kejadian di Sumatera, Gorontalo, dan Luwu Utara. Berapa korban jiwa yang meninggal, berapa rumah terbawa arus? Jadi, ketika ada yang bilang tambang ini untuk pertumbuhan ekonomi, mereka hanya memikirkan ekonomi daerah tapi tidak memikirkan dampak potensi bencana di wilayah masyarakat,” paparnya.
Dalam aksi yang diikuti sekitar 500-an orang, Misba menyebut bahwa aliansi memberikan ultimatum kepada pemerintah daerah, baik legislatif maupun eksekutif.
Kami akan membawa massa yang lebih besar dan bukan gerakan seperti ini lagi, tetapi gerakan ekstrem jika tidak ada keputusan sesuai harapan masyarakat,” ancam Juang.


















