Materi edukasi dalam kegiatan ini disampaikan oleh dr. Tezya Devanagari yang menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
“Penyakit ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama di daerah tropis seperti Indonesia,” kata dr. Tezya.
Lanjut dijelaskan, gejala DBD biasanya muncul 4 hingga 10 hari setelah seseorang digigit nyamuk yang terinfeksi. Gejala yang umum terjadi antara lain demam tinggi secara mendadak yang dapat mencapai suhu 39–40°C, sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, serta munculnya ruam atau bintik merah pada kulit.
“Dalam beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami mimisan atau gusi berdarah yang menjadi tanda kondisi lebih serius,” ungkapnya.
Tanda bahaya (perlu segera ke rumah sakit), yaitu nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan (mimisan, muntah darah, BAB hitam) dan lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran. Adapun pencegahan DBD, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air dan menggunakan lotion anti-nyamuk atau kelambu.


















