Di sinilah kesadaran ekologis harus bertemu dengan kesadaran sosial.
Masyarakat tidak cukup hanya diajak mencintai lingkungan melalui slogan. Kesadaran itu harus tumbuh menjadi perilaku, tidak membakar lahan sembarangan, tidak membuang sampah ke sungai, tidak merusak hutan, menghemat air, menjaga sumber mata air, menanam kembali pohon, serta saling mengingatkan ketika ada tindakan yang mengancam keselamatan lingkungan.
Sebab lingkungan yang rusak tidak pernah mengenal batas sosial. Asap kebakaran tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Banjir tidak memilih rumah berdasarkan status sosial. Kekeringan tidak mengenal jabatan. Kerusakan ekologis pada akhirnya menjadi persoalan bersama.
Bumi adalah Warisan
Maka, menjaga bumi sejatinya adalah bentuk solidaritas sosial.
Ada hubungan yang sangat sederhana tetapi dalam manusia menjaga alam, alam menjaga manusia.
Ketika hutan dirawat, ia menjaga air. Ketika tanah dijaga, ia menjaga pangan. Ketika sungai tidak dicemari, ia menjaga kehidupan. Ketika udara tidak dirusak, ia menjaga kesehatan. Dan ketika manusia menjaga keseimbangan alam, sesungguhnya manusia sedang menjaga masa depan anak-anak yang belum lahir.















